Akidah

Bismillahirahmanirahim. Assalamualaikum ww buat pembaca laman blog msalleh.wordpress.com yang budiman.

Bicara persoalan akidah adalah merupakan perkara paling dasar bagi setiap penganutnya tersendiri. Perkataan akidah yaitu dalam bahasa Arab disebut al-’aqidah yang bermaksud keyakinan. Mari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu kita perhalusinya karena ianya adalah unsur yang paling esensial dan yang paling utama dalam Islam juga meliputi segala hal yang bertalian dengan kepercayaan (keimanan) dan keyakinan seseorang muslim. Namun apabila ia dipetik dalam Al-Quran, akidah itu disebut dengan istilah iman.

Nah! Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian dapat kita pahami bahawa akidah (keimanan) merupakan teori, pengetahuan, landasan yang tersembunyi dalam hati dan sesungguhnya iman itu membenarkan dalam hati dan mengucapkan dengan lidah serta mengamalkan dengan anggota badan. Untuk mempelajari iman kita harus terlebih dahulu membenahi ilmu-ilmu terkait dengannya antara lain

1.)Ilmu Tauhid

2.)Ilmu Ushuluddin

3.)Ilmu Kalam

4.) Ilmu Akoid

5.) Ilmu Teology

Baiklah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya,marilah kita kembali semula akan kata aqidah yang berakar dari kata ‘aqada-ya’qidu, yang berarti menyimpulkan atau mengikatkan tali dan mengadakan perjanjian. Nah! dari kata ini muncul bentuk lain, seperti i’taqada-ya’taqidu dan i’tiqad, yang berarti mempercayai, menyakini dan juga merupakan keyakinan.Jadi kata akidah sama pengertiannya dengan kata iktikad.

Kata akidah menurut Jamil Shaliba (seorang ahli bahasa Arab di Suriah) dalam bukunya al-Mu’jam al-Falsafi (Ensiklopedi Filsafat) amatlah cocok atau sepadan dengan kata doqma dalam bahasa Inggris dan Latin.

Mari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu kita lihat bagaimana ajaran Islam dibina atas tiga aspek pokok,yaitu : akidah, syariat dan  akhlak. Untuk kali ini mari kita batasi ruang lingkupnya hanya pada aspek akidah sahaja terlebih dahulu yang merupakan aspek yang cukup fundamental (pokok) dalam Islam dan berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan (keimanan) dan kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib.

Makanya Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu kita katakan bahawa aspek akidah itu sangat berkaitan dengan pekerjaan hati. Manakala aspek syariat amat berkaitan dengan amalan ibadah yang praktikal baik dari segi pengamatan dan realisasi terhadap amalan lahir dengan mengamalkan dengan anggota badan sebagai menyambut tanda-tanda ia benar-benar beriman melalui ibadah khusus seperti solat,haji,puasa,zakat dan sebagainya yang merupakan perkara fardu ain.

Juga ianya terkait dalam membenahi ibadah umum yang fardu kifayah dalam menerokai teknologi, sosial, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, undang-undang, ketenteraan dalam segala aktivitas bermasyarakat, beragama dan bernegara yang cukup dengan istilah” hablum minannas” yang masih berhubungan terus langsung kepada Allah dengan istilah “hablum minallah”.

Bisa juga kita katakan selain ia berkaitan dengan amal ibadah, ia masih berkaitan dengan pelaksaanaan hukum berupa perintah dan larangan Allah SWT di mana syariat cukup berkaitan dengan anggota badan jasmaniah.

Sedangkan adalah aspek yang berkaitan erat dengan persoalan etika, moral dan pergaulan hidup melalui tasauf yang dipraktikan oleh para Nabi, Rasul dan sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya yang selanjutnya secara murni dan tidak sekali melampaui batas serta sesat. Kita katakan akhlak itu ihsan sebagai suatu kuasa kontrol pengawasan terhadap akal, nafsu, fikiran, hati dan anggota badan yang harus ikhlas terhadap pengalamannya sebagai khalifah Allah di atas muka bumi ini terhadap segala pengalaman yang sesuai dengan tuntutan Allah SWT.

Karena itulah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu berkat dari fungsi amalan tadi yang mendatangkan hasil tadi berdasarkan kawalan, pengawasan ihsan tadi.

Akhlak yang terpuji itulah yang dicari dan jauhilah akhlak yang dibenci cukup melalui proses tujuan tasauf ini antara lainnya

1.) Pembersihan diri melalui taubat nasuha, kesabaran dugaan kezaliman dan ketika membenahi kewajiban seharian, juga sifat redha akan ketentuan Illahi dan senantiasa berzikir menyebut nama-Nya kapan, di mana jua berada, situasi dan kondisi apa pun ketika itu.Selain itu Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu bahawa akhlak yang mantap

2.) Mampu mencegah berbuat keji dan mungkar serta kezaliman melalui niat (selemah-lemahnya iman), melalui kekuasaannya yang berjiwa rakyat lagi bijaksana dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan serta tiada bersifat dayus terhadap pengkianatan umpamanya atau melalui suara baik sms, email, mms dan sebagainya dalam memberi pandangannya selagi tidak menyalahi aturan main, selain menyuruh berbuat kebaikan dan kebajikan dalam berdakwah, tarbiyah serta khidmat bakti sosial dengan penuh ikhlas kerana Allah SWT dan Rasul SAW tanpa dibatasi waktu,tenaga,materi,buah fikiran.

3.) Selain itu harus kita sadari saranan tasauf dalam membina akhlak itu bertujuan untuk memperolehi kebahagian hidup di dunia dan akhirat melalui 4 metodologi tasauf misalnya berkaitan solat seumpamanya yaitu dengan kaedah

i) Jalan Syariat dalam menjujung ketetapan syariat Allah misalnya mendirikan solat fardu merupakan kewajipan solat bagi setiap individu yang mengaku telah beriman selain solat sunat ikut dibenahinya.

ii) Jalan Thoriqat yaitu jalan pelaksanaan Syariat yakni hukum yaitu syarat sah solat seseorang itu yang harus dibenahi terlebih dahulu.Sebagai contohnya solat tanpa berwuduk apakah sah solat terebut dari sekian syarat yang sekian yang ditetapkan oleh hukum syarak.

iii) Jalan Hakikat iaitu keutamaan niat adalah Allah SWT semata-mata sebagai membenahi tuntutan akidah yang benar-benar bebas dari syirik besar dan kecil umpamanya riak di depan jemaah dan bukan mendirikan solat kerana Allah SWT tetapi seumpamanya riak,takut dimarahi sesiapa,segan,terpaksa, main-main dan sebagainya akibat memiliki kualitas iman para munafik, nifaq, fasik dan sejenis dengannya. Sepatutnya iman diwarisi sebagaimana yang hakiki oleh para nabi-nabi, orang-orang soleh yang senatiasa bertambah keimanannya atau pun iman orang-orang mukmin yang sentiasa teguh.

iv) Jalan Makrifat yakni ihsan (Akhlak yang diburu) yaitu ketika kita mendirikan solat secara khusyuk dan sempurna yang mungkin kita benahi seolah kita berkhalwat dengan Allah ketika sedang beribadah dengan penuh kerinduan, kedamaian, seolah-olah kita sedang berkata-kata dengan pencipta-Nya dengan penuh pengertian dan penuh konsontrasi seolah-olah berhadapan dengan Allah dengan penuh sopan dan tertib seumpama penuh sempurna seumpama ketika mengadap ke Bawah Duli Tuanku Sultan katalah.

Namun kemuncaknya kita mampu melihat Allah di akhirat kelak ketika dalam surga nanti,amin. Jadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekaliannya, jelaslah ketiga aspek ini merupakan hubungan yang sangat erat, keterkaitan yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan.

Akidah merupakan pokok (pondasi), syariat merupakan cabang (bangunan), sedangkan ahklak merupakan atapnya. Syariat dan akhlak harus dibangunkan atas dasar akidah yang kuat dan kokoh. Akidah yang kuat dapat membuat syariat dan akhlak berdiri dengan tegak dan megah.

Akhlak adalah perhiasan akidah dan syariat. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sidang pembaca halaman blok norhasanin-wordpress.com yang budiman.

Mari kita lihat pandangan Mahmud Syaltut, seorang ulama besar Mesir bahawa akidah dan syariah mempunyai hubungan yang sangat erat saling menunjang. Karena akidah itu dasar, di atasnya dibangun syariat, sedangkan syariat merupakan jejak langkah yang mesti mengikuti dan melayani akidah. Oleh sebab itu, syariat tidak akan ada tanpa akidah, ia tidak akan subur dan berkembang kalau tidak berjalan di bawah lindungan akidah.

Akidah menjadi tenaga pendorong bagi syariat, sedangkan syariat merupakan jawaban dan sambutan dari panggilan jiwa yang ditimbulkan oleh akidah. Akidah menjadi langkah pertama dan paling awal yang harus dilalui oleh setiap muslim.

Lihatlah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu di luar sana berapa banyak umat yang rusak, masuk ke rumah sakit jiwa, yang stress, psikosis, neurosis dan sanggup bunuh diri,terjun lombong atau dari bangunan tinggi atau terpaksa membunuh atau menzalimi sesama sendiri sebagainya kerana jiwa tanpa iman yang kukuh mudah dipengaruhi anasir jahat baik dari kalangan manusia dan jin jahat serta iblis, mahupun dunia serta segala isinya ditokok dengan bujukan hawa nafsu yang gila yang zalim dan suka menjadi pengkhianat.

Memang benar Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya, barang siapa ucap kalimah “Tiada Yang Layak Diibadahi/Disembah melainkan Allah” akan tetap dimasukkan ke dalam surga asal tidak syirik kepada Allah baik syirik besar atau kecil seumpamanya riak tadi. Bagi yang terlepas dari syirik kecil dan besar, mungkin terpaksa menjalani hukuman sekian tahun di neraka sesuai amalan masing-masing, kemudian dibebaskan dan disuruh membersihkan diri di tepi sumur al-kausar barulah dimasukkan ke dalam surga yang mana,mengikut amalannya ketika di dunia dahulu.

Tetapi kalau sanggup masuk ke dalam api neraka nanti,coba letakkan buntut Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu masing-masing ke atas kompor gas atau kompor kayu di rumah masing-masing dalam masa 3 minit. Jika gagah enggak apa-apa tetapi jika jelas enggak kuat harus bertaubat dan berjanji akan terus menjunjung segala perintah Illahi dan menjauhi larangan-Nya. Nah! kembali kepada akidah (spritual) tadi yang merupakan aspek yang harus dimiliki lebih dahulu sebelum yang lain-lain (termasuk aspek material,dan status kedudukan dalam sosial).

Karena apa Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu? Karena akidah itu harus bulat dan penuh, tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya.Itulah akidah yang benar adalah akidah yang paling cocok dengan ketetapan keterangan-keterangan yang jelas dan tegas yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis.Makanya akidah ini merupakan hal yang utama dan pertama yang harus ditanamkan.

Lihat bagaimana pada periode Mekah, penanaman akidah itulah yang pertama sekali dilakukan oleh Rasullullah SAW umpama pada sahabatnya Bilal Bin Rabbah yang tidak putus-putus menyebut Ahad..Ahad..tatkala dibebani batu besar ke atasnya tatkala dijemur di bawah mentari terik saat itu.

Kemudian barulah syariat-syariat yang berkenaan dan amaliah diwajibkan kepada umat ketika akidah mereka sudah kokoh dan kuat. Zakat misalnya baru diperkenalkan baru wajib setelah Nabi SAW berada di Madinah. Akidah itulah juga yang diserukan oleh setiap rasul yang diutuskan Allah SWT ke atas golongan kaum primitif seperti dinamisme dan anamisme serta golongan polythesme termasuklah golongan athesime sehingga dakwah tersebut masih diteruskan sehingga ke saat kini walaupun berdepan dengan golongan orientatalis, sekuler dan apa pun aliran sekalipun.

Itulah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang budiman, dalam ajaran Islam kepercayaan pokok yang harus diyakini lebih dahulu ialah tiada yang layak diibadahi/disembah selain Allah (La ilaha illa Allah). Pernyataan ini menunjukkan bahawa Allah Yang Esa, tidak bersyarikat dan tidak boleh disyarikatkan dengan yang lain.Hanya Allah SWT satu-satunya yang patut dan berhak disembah.

Akidah terhadap keesaan Allah SWT ini akan melahirkan keyakinan yang mengakui adanya wujud Allah, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, dan kekuasaan-Nya. Pokok akidah ini sendirinya akan mencakup kepercayaan-kepercayaan yang lain, seperti malaikat-malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kebangkitan dan ketentuan takdir-Nya baik nasib bertuah dan nasib malang bagi hamba-hambanya.

Nah! Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu dari penyataan yang sangat mendasar untuk akidah yang benar ialah dua kalimat syahadat atau syahadatain yang juga disebut kalimah tauhid. seseorang akan dapat diakui sebagi seorang muslim dan mempunyai akidah yang benar apabila ia telah menyatakan dua kalimah syahadat, yaitu Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyahadu anna Muhammadan Rasul Allah (Saya bersaksi bahawa tiada yang layak diibadati/disembah selain Allah, dan Muhammad adalah pesuruh Allah).

Keislaman seseorang itu ditandai dengan adanya pengakuan terhadap dua hal di atas dengan menyatakannya secara sungguh-sungguh. Dua kalimah syahadat itu adalah kunci pembuka bagi seseorang untuk menyatakan diri masuk Islam dan kunci penutup bagi seseorang dalam mengakhiri hidup di dunia.

Bahkan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sidang laman blog msalleh.wordpress.com yang budiman di mana Rasullullah SAW menyatakan bahawa kalimat tauhid itu menjadi kunci untuk masuk surga : “Sesiapa yang menyatakan pada akhir hayatnya

“Tiada yang layak diibadati/disembah selain Allah, maka ia akan masuk surga”. (HR at-Tarmizi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hanbal).

Akhir kata yang baik itu datangnya dari Allah SWT Dan Rasullullah SAW dan yang lemah itu datangnya dari kedaifan saya selaku daie yang hina serta mohon maaf atas kesalahan serta mohon pembetulan akan kandungan ini kuliah usrah kita kali ini secara hikmah. Insyallah kuliah seterusnya akan saya segera benahi dengan temanya yang ditentukan oleh pemilik laman blog ini terlebih dahulu sebagai wewenang yang saya berikan kepadanya itu.

Semoga usaha dakwah,tarbiyah serta khidmat bakti sosial senantiasa mewarnai hidup kita dan bukannya hanya bermain dilidah manis lagi tidak bertulang dalam menjalani beban dakwah kepada masyarakat di mana jua mereka berada.Terima kasih dan mohon maaf jika tersalah kata dalam usrah ini.Wsl.

Disediakan oleh:
Sdr Drs Mohd Salleh Albakri,M.A bin Haji Mohd Tahir
Setiausaha Abim Kuantan
Mantan Ketua Komisaris Mahasiswa Pemikiran Moderan Dalam Islam, Program Pascasarjana IAIN SULTHAN SYARIF QASIM, INDONESIA.(2000-2002).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: