Disebalik Nama Allah

Bismillahirahmanirahim.

Asalamualaikum w.w sidang pembaca laman blog msalleh.wordpress.com yang dimuliakan oleh Allah SWT hendaknya.

Perkataan Allah merupakan sebutan atau nama Tuhan (tiada yang layak diibadahi/disembah selain Allah) merupakan wujud tertinggi, terunik selain Ia adalah Zat Yang Maha Suci, bahkan Maha Mulia dan daripada-Nya kehidupan berasal dan akhirnya kehidupan kembali di sisi-Nya. Makanya para Filsuf sejak di zaman kuno menamakan Allah SWT antara lain dengan nama Pencipta, Akal Pertama, Pengerak Utama, Pengerak Yang Tiada Bergerak, Puncak Cita, dan ada yang mengatakan Wajib al-Wujud.

Jadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua dapat kita katakan Allah SWT itu adalah tuntutan setiap puak dan bangsa manusia di dunia ini merasakan dan menyadari kehadiran-Nya sejak masa yang paling awal dan menamai-Nya menurut istilah yang mereka tentukan baik argumen membuktikan eksistensi Allah melalui keyakinan, persetujuan, kepastian yang universal.

Selain itu juga melalui argumen kosmologis yang dimulai dari fakta-fakta mengenai alam semesta yang diamati seperti gerak, sebab, kontingensi, keteraturan yang pasti ada permulaan yang disebut “pengerak utama”.

Begitu juga argumen ontologis bagi adanya Allah SWT kerana itu, Allah SWT berada sebagai ada yang sama sekali sempurna (kerana kalau Dia tidak berada, Dia tidak akan menjadi Yang ada yang sama sekali sempurna sebagaimana adanya suatu ide Allah SWT sebagai Yang ada Yang sempurna dan Tak terbatas pada pikiran manusia yang terbatas.)

Nah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sidang usrah diskusi ilmiah semuanya, di mana kali ini saya mahu bicara perkataan Allah cukup hanya dibatasi ruang lingkupnya melalui argumen teologis menurut kaca mata Islam sahaja. Kita menyadari kasus ini sangat cukup sensitif di kalangan umat Islam dengan kalangan umat Nasrani yang berada di wilayah Malaysia sekarang ini sehingga terjadi konflik korban harta seperti pembakaran gereja katolik dan mesjid, surau yang bisa memporak perandakan keharmonian yang terjalin sebelum ini.

Gara-gara kasus perebutan kalimah Allah yang terletak cuma pada sebutan sahaja sehingga umat Islam Malaysia lalai dalam strategik dan teknik mempertahankan Akidah terhadap kemurnian ketauhidan dan penafian dari sebarang unsur-unsur syirik dari menyekutukan Allah melalui tarbiyah, dakwah dan akhlak terpuji yang mampu menawan hati umat Nasrani di wilayah Malaysia agar segera mengesakan Allah dan tidak lagi terpesong atau bercampur syirik.

Dengan tidak lagi mengatakan Allah ialah salah satu dari yang tiga (trinitas) baik dari Bonda Maria, Tuhan Yesus yang telah menyesatkan umat Nasrani Malaysia tersebut agar segera kembali membersihkan iman mereka dari unsur-unsur syirik kepada Allah SWT selain membiarkan mereka mengakui Allah pada sebutannya.

Inilah tugas beban dakwah dan tarbiyah serta akhlak terpuji kita umat Islam di Malaysia untuk membantu mengembalikan iman mereka setelah mereka mengakui Allah tuhan mereka pada sebutan dengan membersihkan terlebih dahulu diri mereka dari segala unsur-unsur syirik sehingga mereka benar-benar beriman kepada Allah SWT hasil dari seruan tersebut yang harus diteruskan dari masa ke semasa tanpa dibatasi waktu, tenaga, pikiran dan juga materi dalam membenahi program suci tersebut baik secara dakwah dan tarbiyah serta akhlak terpuji secara hikmah dan bijaksana dari kalangan individu muslim, LSM (NGO MUSLIM) dan maupun dari kalangan Depertemen Agama Malaysia yang terkait.

Bukannya menimbulkan permusuhan dalam merebut perkataan kalimah Allah tersebut dengan menimbulkan anasir buruk yang boleh merugikan kehidupan bermasyarakat, beragama dan bernegara.

Nah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sidang yang dirahmati Allah SWT semuanya. Mari kembali kita melihat terlebih dahulu dari segi secara kebahasaannya, nah kata Allah tadi sangat mungkin berasal dari kata al-Illah. Kata itu mungkin pula berasal dari bahasa Aramea, yaitu Alaha yang artinya Allah. Kata Ilah (Tuhan yang disembah) dipakai untuk semua yang dianggap sebagai Tuhan atau Yang Maha Kuasa dan tidak terkecuali Sang Pencipta Alam Semester. Maka dengan penambahan huruf alif lam di depannya sebagai kata sandang tertentu, sudah tentu kata Allah dari kata al-Illah dimaksudkan sebagai Zat Yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Pencipta Alam Semester.

Nah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu di sini jelaslah kata Allah adalah satu-satunya ism ‘alam atau kata yang menunjukkan nama yang dipakai bagi Zat Yang Maha Suci. Nama-nama lain sekaligus pada sifat-sifat-Nya jika menunjukkan kealaman Zat Allah SWT, seperti al-Aziz atau Yang Maha Perkasa yang artinya Allah mempunyai sifat perkasa.

Bahkan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu kata Allah sudah dikenali oleh masyarakat Arab jahiliyah sebagaimana nama bapanya nabi Muhammad SAW yaitu nama Abdullah (Abd Allah) yang bermaksud hamba Allah. Inilah sejarah yang menunjukkan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW terdapat orang-orang yang menganut agama wahyu sebelum Islam, yang menyembah Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Hanif.

Konsep masyarakat Arab pra-Islam khususnya penduduk Mekah, mengenal Allah SWT dapat diketahui melalui Al-Quran. Allah SWT bagi mereka adalah pencipta langgit dan bumi yang memudahkan peredaran matahari dan bulan, yang menurunkan air dari langgit,tempat mengantungkan harapan (Lihat QS.29:61,63; QS.31:25; QS.39:38; QS.43:87; QS.16:53 dan QS.29:65). Mereka merendahkan diri dan bersumpah pun atas nama Allah SWT (Lihat QS.6:109; dan QS.35:42).

Begitu juga Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya, zat Allah SWT itu lebih besar dari apa yang dikuasai oleh akal manusia, dari yang terjangkau oleh pikiran manusia atau mungkin diduga oleh akal dan pikiran manusia yang sangat terbatas.

Sesungguhnya Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sesungguh-Nya Allah SWT itu menguasai segala batas akal pikiran manusia karena dengan itu akal pikiran manusia tidak pernah mampu mengetahui Zat Allah SWT sebagaimana hakikat listrik dan magnet. Maka sudah tentulah Islam melarang manusia untuk memikirkan Zat Allah SWT selain dari menyeru memikirkan ciptaan-Nya. Sikap tersebut sama sekali bukan mengekanggi kebebasan berpikir atau dukungan bagi kebekuan wawasan melainkan sikap yang menyadari keterbatasan diri baik akal dan pikiran manusia agar tidak tersesat oleh pemaksaan di luar batas kemampuannya.

Ini kerana apa Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya dikarenakan akal pikiran dilindungi dari usaha mencoba-coba yang tidak mempunyai kelengkapan sarana. Lebih baik kita memikirkan tentang dalil wujudnya Allah SWT, nama-nama Allah SWT, sifat-sifat Allah SWT dan juga memperlajari pemikiran-pemikiran tentang Allah SWT.

Namun sayangnya Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu saya tidak dapat menerangkannya dalam waktu yang sedikit pada kesempatan usrah diskusi ilmiah kali ini tetapi insallah di lain kesempatan kita kupas satu persatu agar ianya dapat kita hayati akan kebesaran kalimat Allah tersebut dikemudian hari disuatu saat nanti,amin.

Makanya Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu dalam mengenai hal ini, Allah SWT telah mengingatkan manusia dalam surah an-Nahl ayat 60 yang artinya:”….dan Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Sikap seperti itu sama sekali tidak mengurangi kejelasan wujud-Nya.Wujud-Nya nyata bersemayang di dalam setiap jiwa, tercermin dengan jelas pada keajaiban dan keindahan segenap ciptaan serta keagungan tanda-tanda-Nya.

Bahkan, orang-orang kafir pun seperti yang termaktub dalam QS.31:25 bila ditanya siapa yang menciptakan langgit dan bumi,mereka tentu akan menjawab:”Allah”. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, para filsuf dan sarjana dari berbagai bidang ilmu dengan argumentasi sesuai keahlian dan ilmu masing-masing,menegaskan dan membuktikan wujud-Nya.

Dan Ingatlah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya, sepanjang sejarah pula, para nabi dan rasul mengajarkan bukan hanya masalah kebenaran wujud-Nya, tetapi juga bagaimana seharusnya tindak lanjut yang dilakukan oleh manusia atas pengakuan wujud-Nya tersebut.

Akhir kata yang baik itu datangnya dari hidayah dan petunjuk dari Allah SWT dan yang buruk itu datangnya dari kelemahan kita sendiri sebagai hamba Allah SWT yang lemah. Semoga dengan adanya usrah diskusi ilmiah ini,dapat jua memberi kita gambaran tentang kalimah Allah yang sebenarnya yang telah jauh terpesong terkeliru dan diselewengkan dari kemurniannya akibat ulah orang yang suka memecahkan iman yang hakiki jauh dari menyekutukan Allah SWT dari perbuatan syirik dan salah dalam mengenali siapa itu Allah SWT yang sebenarnya menurut argumen kaca mata teologi Islam.

Mohon maaf dan sarannya sekali jika ada kesalahan dalam usrah diskusi ilmiah kali ini dan semoga usaha beban dakwah, tarbiyah dan khidmat bakti sosial senantiasa mendapat tempat dalam hati masyarakat luasnya, amin rabal-alamin.Wsl.

Disediakan oleh:
Sdr Drs Mohd Salleh Albakri,M.A bin Haji Mohd Tahir
Setiausaha Abim Kuantan
Mantan Ketua Komisaris Mahasiswa Pemikiran Moderan Dalam Islam, Program Pascasarjana IAIN SULTHAN SYARIF QASIM, INDONESIA.(2000-2002).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: