Pengertian Agama Dan Kebutuhan Manusia Terhadapnya

Kuliah Dirasah Islamiyah
Oleh : Sdr Drs Mohd Salleh Albakri,M.A Bin Haji Mohd Tahir.

Agama berasal dari kata Sankskrit terdiri atas dua kata, a bererti tidak dan gam bererti pergi; bermakna tidak pergi; tetap di tempat; diwarisi turun temurun yang memang mempunyai sifat yang demikian.Gam juga bererti tuntutan, iaitu bererti teks atau kitab suci, oleh kerana ajaran agama biasanya tersimpan dalam kitab suci yang dapat menjadi tuntunan hidup bagi penganutnya. Manakala gama: bermakna kacau atau kucar-kacir . Pengertian serupa ini mungkin dapat diterima kerana sudut peranan yang mesti dimainkan oleh agama bagi pemeluknya dapat memperolehi ketenteraman, keteraturan, kedamaian dan jauh dari kekacauan. Istilah agama dalam bahasa asing di antara lain: religion, religio, religie, godsdienst dan ad-din.

Manakala Religi (Relegere) berasal dari kata Latin yang bererti mengumpulkan, membaca secara kumpulan yang mengabdikan kepada Tuhan yang mesti dibaca. Pendapat lain, religare bererti mengikat iaitu: mengikat manusia dengan Tuhannya sebagai sesuatu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindera. Ia memperlihatkan keterbatasan cakupan ikatan intim antara manusia dengan yang ghaib sahaja dibandingkan keluasan cakupan dalam agama Islam meliputi hubungan sesama manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya kecuali syaitan serta alam sekitar, selain hubungan manusia dengan Allah.

Sedangkan kata ad-din dalam bahasa Arab terdiri atas huruf dal, ya dan nun adalah masdar dari kata kerja dana-yadinu. Jika dibaca dain bererti hutang di mana yang menghutangi (Tuhan) tentu lebih kaya dibandingkan yang berhutang (manusia). Jika dibaca din yang bererti agama dan hari kiamat yang menunjuk Tuhan sebagai pemilik hari kiamat adalah lebih berkedudukan tinggi, berkuasa, ditakuti dan disegani oleh manusia yang mesti tunduk kepada-Nya. Sedangkan din diertikan perhitungan hari kiamat merupakan landasan untuk menghitungkan amalan perbuatan manusia di hari kiamat. Ketika din diertikan adat kebiasaan, pengertian ini ditinjau dari sudut agama dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian mentradisi sepanjang kehidupan. Demikian pula ketika din diertikan sebagai nasihat merupakan bimbingan hidup atau nasihat agar penganutnya memperolehi kebahagiaan hidup zahir batin.

Fairuzzabab dalam kamusnya al-Muhieth din diertikan kemenangan, kekuasaan, kerajaan, kerendahan, kemuliaan, perjalanan, paksaan dan peribadatan yang betapa universalnya hubungan agama dengan fungsi, kedudukan, sifat serta muatan yang terkandung didalamnya.

Kata din biasanya dekat dengan kata al-millah (dinisbahkan kepada nabi tertentu, misalnya millah Ibrahin) dan al-madzhab (dinisbahkan kepada mujtahid tertentu misalnya mazhab/faham al-Syafi’i). Menurut al-Jurjani, kedua-duanya mengandung persamaan muatan materi cuma perbezaan terletak pada kesannya. Al-din dinisbahkan kepada Allah, seperti din Allah, din yang diturunkan Allah. Kata din dipergunakan baik untuk Islam mahupun agama lain, termasuk berhala yang dianut masyarakat Hejaz pada awal risalah dan nubuwwah Muhammad SAW serta boleh digunakan untuk semua agama sebagaimana firman Allah : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (QS al-Kafirun (109):6)

Jadi kita sepakat menyimpulkan definisi agama bagi mewakili perkataan (agama, religi, din) yang ada selama ini sebagai berikut: (1) Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang mesti dipatuhi, (2) Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia; (3) Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia; (4) Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu; (5) Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari suatu kekuatan ghaib; (6 Pengakuan terhadap adanya kewajipan-kewajipan yang diyakini bersumberkan pada suatu kekuatan ghaib; (7) Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misteri yang terdapat dalam alam sekitar manusia; (8) Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.

Terlepas dari pengertian agama yang berbeza-beza, menurut Prof DR Harun Nasution terdapat formula empat unsur pokok yang dapat dikategorikan sebagai agama setelah diidentifikasi iaitu ; (1) Manusia merasa lemah dan berhajat memohon pertolongan kepada kekuatan ghaib di mana manusia perlu mengadakan hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut; (2) keyakinan manusia menjaga hubungan baik dengan kekuatan ghaib agar tidak rosak agar kesejahteraan dan kebahagiannya di dunia dan hidupnya di akhirat yang dicari tidak akan hilang; (3) respon yang bersifat emosional dari manusia seperti perasaan takut di kalangan penganut agama primitif atau perasaan cinta di kalangan agama-agama monoteisme; (4) Faham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan ghaib, kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama yang berkaitan, dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.

Manusia secara umum mempunyai dua kebutuhan; (1) kebutuhan spritual dan (2) kebutuhan material. Menurut Murthada Muthahhari; jika ingin memastikan agama akan kekal mestilah ada salah satu dari dua hal berikut dalam memenuhi kebutuhan alami tersebut, sehingga tidak ada sarana yang lebih baik darinya. Jika tidak, agama akan hilang ditinggalkan manusia. Selain mampu memenuhi kebutuhan (1) fitri dan emosional manusia, yang kedudukannya tidak dapat digantikan oleh apa pun seperti kasih sayang, rasa damai, harga diri, bahagia dan tenang. Tanpanya manusia akan frustasi, depressi, stress, neurosis terakhir menjadi psikosis sehingga sanggup membunuh diri dan mendatangkan perbuatan bahaya/ancaman terhadap aspek keselamatan orang lain pula. Yang paling ditakuti manusia itu menjadi jauh lebih sesat (dari sekuler menjadi ateisme) setelah terlepas dari ikatan agama..

Begitu juga kebutuhan manusia bersifat fizik/material (2) seperti makan, minum, seks, istirehat / hiburan, pakaian, kediaman, pendidikan, produk kesihatan / kosmetik dan kelengkapan fasiliti peribadi seperti kenderaan, perabot, perhiasan, perkakas elektrik/elektronik serta prasarana awam seperti dewan, sekolah, masjid, jalan raya, perlabuhan dan sebagainya. Jadi peranan agama di sini mengarahkan atau menunjukkan makanan, minuman dan kebutuhan material apa saja yang baik dan boleh digunakan, dan bagaimana cara mendapatkan dan menggunakannya agar membawa kemaslahatan bagi yang bersangkutan. Dengan bimbingan agama, keadaan manusia akan bermartabat, terhormat dan tidak jatuh ke dalam kehidupan hewan.

Kebutuhan manusia terhadap agama, dalam erti keperluan akan adanya Tuhan dan peraturan-peraturan yang berasal dari-Nya, mampu dilihat dari dua sifat dasar yang dimiliki manusia dari sudut psikologi dan aspek sosiologinya.

Secara psikologi manusia mempunyai perasaan akan ada kekuatan ghaib yang menguasai alam dan dirinya yang disusun tata cara peribadatan / pemujaan terhadap Yang Maha Kuasa seperti yang terdapat dalam masyarakat primitif yang disebut dinamisme (benda-benda yang memiliki kekuatan ghaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia-dipakai/dimakan agar sentiasa dilindungnya) yang disebut mana, tuah/sakti seperti keris,batu cincin dan tujuan beragama di sini ialah mengumpulkan mana sebanyak mungkin, agar semakin jauh dari bahaya.

Berbeda dengan animisme (Roh halus yang mempunya pengaruh terhadap kehidupan manusia) bahawa setiap benda, baik bernyawa mahupun tidak mempunyai roh yang tidak berbentuk yang menyerupai wap atau udara yang terdapat di hutan tebal, tasik yang dalam, pohon besar yang lebat buahnya, sungai yang deras, gua yang gelap gelita, roh nenek moyang adalah roh-roh seram, ngeri yang mesti dihormati dan juga ditakuti. Hanya para dukun atau tukang sihir yang dianggap mampu menguasai roh-roh tersebut melalui sajian dan upacara untuk menghindar bencana dan malapetaka. Dengan demikian, secara psikologi manusia memang memerlukan agama bagi menaruh harapan-harapan akan kasih sayang, rasa aman, harga diri, rasa bebas dan memiliki kejayaan dalam hidupnya sebagai manifestasi akan adanya Tuhan. Begitu juga dalam Islam, manusia dianjurkan selalu mendekati diri kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya agar mendapat kekuatan batin (merasa tenang dan damai) dan terhindar dari konflik kejiwaan yang membahayakan seperti kegelisahan, dendam, penindasan dan rasa kegagalan.Bahkan tidak mustahil ia akan menderita sakit jiwa.

Dengan merasa aman, tidak ada ancaman terhadap dirinya, mendorong manusia mencari rezeki sekuat tenaga yang dapat menjamin kehidupan dirinya, anak cucu dikemudian hari serta terjamin kehidupannya setelah mati nanti. Begitu juga rasa harga diri tak mungkin ia akan berdendam dan akan menentang orang yang tidak menghargainya. Apalagi rasa bebas tanpa rasa tertekan dan tertindas tidak akan menimbulkan gangguan jiwa. Seterusnya rasa kejayaan dapat membebaskan diri dari rasa tidak puas hati dan putus asa sehingga hilang keseimbangan. Dengan huraian di atas, terlihat agama mampu mendidik manusia mempunyai sikap positif dan membebaskan manusia dari diperbudak materi, menegakkan kebenaran dan tidak melakukan dosa serta bersikap terkeji agar bertukar kepada sifat-sifat terpuji pula. Apabila manusia melaksanakan ajaran-ajaran agama tersebut, keberadaan mereka di dunia akan lebih bermakna.

Peranan agama ternyata menarik perhatian para sosiolog, kerana membimbing manusia agar menghargai kebajikan, menganggap suci keadilan, menyayangi sesamanya, mencipta rasa saling percaya antara satu sama lain, menghargai nilai-nilai moral dan mendorong untuk melawan kekejaman. Tanpa adanya nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial, maka masyarakat manusia akan hancur dan jatuh ke dalam kehidupan binatang. Dengan demikian, dilihat dari sudut kehidupan sosial ternyata manusia sangat memerlukan agama. Itulah dalam Islam, misalnya diatur hubungan antara manusia; antara lainnya dibentuknya lembaga perkahwinan yang mengatur dan menetapan soal akad nikah sebagai pangkal tolak pembangunan rumah tangga yang sejahtera, harmonis dan bahagia.Dari perkahwinan dan kehidupan rumah tangga yang baik lahirlah masyarakat yang beradab dan penyayang.

Ini kerana peranan agama mampu mencipta sistem sosial yang terpadu dan utuh di mana (1) agama mampu mendorong terciptanya persetujuan mengenai sifat dan isi kewajiban-kewajiban sosial, dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi membentuk sikap para anggota masyarakat dan memberi isi kepada kewajiban-kewajiban sosial mereka.(2) Terdapat alasan yang kuat bahawa agama memainkan peranan vital dalam memberi kekuatan memaksa yang mendukung dan memperkuat adat istiadat dan moral yang berlaku.

Kenyataannya di abad moden ini yang serba canggih hanya dapat memecahkan soal-soal hidup yang bersifat material, tetapi juga membutuhkan hal-hal spritual. Juga sebagai makhluk sosial di mana seseorang individu tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Hidup mesti dijalani bersama orang lain yang masing-masing berperanan serta dalam semua tugas atau gotong-royong dan kreativiti serta mesti ada pembahagian kerja di antaranya tanpa ada unsur keserakahan sedikit pun. Agama terbukti bukan hanya mengatur persoalan ibadah khusus seperti solat, haji, puasa dan zakat tetapi juga persoalan ibadah umum seperti teknologi, hubungan sosial, politik, ekonomi, budaya/seni, undang-undang/pengadilan/jenayah, pendidikan/teknologi, kekeluargaan, pemerintahan/politik sebagaimana yang dimainkan oleh pihak kerajaan serta pertubuhan badan-badan ngo, lembaga kemasyarakatan dan golongan swasta bagaikan satu tubuh dalam bermasyarakat dan bernegara yang saling berhubungan satu sama lainnya.

Dari huraian di atas jelas terlihat bahawa ditinjau dari aspek sosiologis, manusia sebagai makhluk sosial mutlak memerlukan agama. Kehidupan sosial yang tidak di atur oleh agama, akan melahirkan kekacauan, dan mengheret manusia kepada kehidupan ala binatang yang tidak mengenal nilai-nilai moral, hilang kesopanan dan tiada budi pekerti yang luhur sehingga mampu menyumbang budaya rogol, buang bayi, syirik/murtad/bidaah/khurafat, penjenayah, perompak, hidonisme (rempit,disko,lepak), kaki arak/dadah/judi, zina dan lain-lain keruntuhan moralnya di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Wassalam.

Disediakan oleh
Sdr Drs Mohd Salleh Albakri, M.A bin Haji Mohd Tahir
Setiausaha Abim Kawasann Kuantan
Mantan Ketua Komisaris Mahasiswa Pemikiran Modern Dalam Islam, Program Pascasarjana IAIN Sulthan Syarif Qasim, Indonesia (2000-2002)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: